Tampilkan postingan dengan label bahan kuliah pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahan kuliah pertanian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

Mengelola sampah



Dampak sampah pada lingkungan

Sampah yang bertumpuk pada suatu tempat akan:                    
menyebabkan Berkurangnya estetika    (tidak sedap dipandang mata)
Merusak struktur tanah
Mengotori air
Menyebabkan bau
Menyebarkan bibit penyakit

Kompos

Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah  organik. Sampah organic secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos


Sekilas Mengenai STARTER
STARTER berfungsi untuk mempercepat pengolahan sampah dengan cara fermentasi. STARTER ini merupakan campuran mikroorganisme baik yang bersifat aerob maupun anaerob.

Campuran mikroorganisme tersebut diantaranya terdiri dari : jamur fermentasi, bakteri fotosintesis, ragi, bakteri asam laktat dan actinomycetes. Mikroorganisme ini dapat hidup bersama karena saling bersimbiosis satu sama lain. Karena sifatnya, komunitas mikroorganisme ini dapat mempercepat dekomposisi bahan organik sehingga tidak menimbulkan bau. Tiap-tiap spesies mikroorganisme di dalam komunitas mempunyai fungsi masing-masing.

 Bagaimana Membuat Kompos Yang Baik ?
Kelancaran proses pembuatan kompos dan kualitas kompos tergantung dari sampah yang dipilah. Sebaiknya sampah hanya terdiri dari sampah organik, seperti daun-daunan lunak, sisa kulit buah, sisa sayuran dan sisa-sisa makanan.



Bahan Baku Pembuatan Kompos
ü  STARTER
ü  Sampah Dapur (sisa makanan, potongan sayur buah)
ü  Sampah Halaman ( guguran daun, potongan rumput, potongan tanaman, sapuan halaman)
ü  Kotoran ternak
.
STARTER Cair


Cara Pembuatan Kompos Dari Sampah Dapur

v  Sampah Organik berupa sisa makanan, kulit buah,   sisa  sayuran dipotong-potong ± 2 cm
v  Sisa sayur sebaiknya dicuci,  ditiriskan.
v  Campurkan sampah organik dengan bokashi
v  Wadah pengomposan diisi dengan kompos jadi  kira-kira 1/3 bagian dari wadah
v  Tutup dengan tampah, atau karung plastik, supaya udara tetap bisa masuk tapi tidak dihinggapi lalat
v  Taruh wadah ditempat yang terlindung dari hujan dan  panas matahari langsung.
v  Proses pengomposan berjalan bila timbul panas.
v  Sampah hari berikutnya ditaruh diatasnya setelah    ditaburkan bokashi. Timbunan sampah sebelumnya diaduk merata untuk memberi udara segar.
v  Setelah 2 hari dilakukan pengadukan dan bila tumpukan terlihat kering berikan  percikan  air secukupnya secara merata, tetapi bila basah taburkan sedikit dedak.
v  Kompos akan jadi dalam waktu 4 hari

Manfaat pupuk kompos bagi tanaman dan tanah

Pupuk kompos memberikan beberapa manfaat spt :
ü  Menyediakan unsur hara bagi tanaman
ü  Menggemburkan tanah
ü  Memperbaiki struktur tanah dan tekstur tanah
ü  Meningkatkan daya ikat tanah terhadap air
  Memudahkan daya ikat tanah terhadap air
  Menjadi salah satu alternatif pengganti pupuk kimia karena harganya lebih murah, bekualitas dan ramah lingkungan

Penggunaan Komposter
Untuk memudahkan proses pembuatan kompos, dapat digunakan komposter yang tersedia di pasaran. Contoh komposter yang tersedia di pasaran sbb:

ü  Moebilin
ü  MOL (mikro organisme lokal)
ü  Dan lain-lain

Sabtu, 02 Juni 2012

melon


ABSTRAK

Melon banyak digemari masyarakat karena rasanya yang manis dan aroma yang segar. Melon rentan terhadap serangan penyakit. Penyambungan tanaman melon merupakan salah satu cara untuk mengatasi penyakit busuk akar dan dapat meningkatkan hasil. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil dari beberapa varietas melon yang disambung dengan waluh sebagai batang bawah. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama ialah penyambungan, yaitu tanpa disambung dan disambung; dan faktor kedua ialah varietas melon yaitu Ameria, Ten Me dan Autum Sweet. Hasil penelitian menunjukkan interaksi nyata pada berat buah dan diameter buah. Penyambungan menyebabkan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dari pada melon yang tidak disambung.




















PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Melon merupakan komoditi hortikultura yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Hal tersebut karena buah melon memiliki karakteristik khas yaitu manis, renyah dan beraroma Lembut, sehingga banyak digemari masyarakat. Menurut Samadi (1995), permintaan melon meningkat 10% setiap tahunnya, namun permintaan pasar terhadap buah segar tersebut masih belum sepenuhnya terpenuhi. Pengembangan budidaya melon dapat diarahkan untuk menunjang meningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat, pengurangan impor, peningkatan ekspor, perluasan kesempatan kerja dan wirausaha tani yang berorientasi pada pengembangan agribisnis maupun agroindustri. Salah satu kendala budidaya melon ialah tanaman melon rentan terhadap serangan penyakit akar. Penyakit tersebut antara lain layu fusarium, layu bakteri, embun tepung, embun bulu, dan cendawan tanah. Oleh karena hal tersebut di atas penyambungan tanaman melon merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut. Penyambungan batang atas dengan batang bawah umumnya dilakukan antara dua tanaman yang masih dalam satu spesies atau penyambungan antara dua tanaman yang berbeda spesies namun masih dalam satu famili (Wudianto, 2003). Menurut Ashari (1995), perlakuan sambung batang bawah terhadap batang atas akan mempengaruhi beberapa komponen hasil tanaman, yaitu: (1) ukuran dan karakter tumbuh, (2) mengontrol pembungaan, jumlah tunas, dan hasil batang atas, (3) mengontrol ukuran buah, kualitas dan kemasakan buah, (4) resistensi terhadap hama dan Penyakit tanaman. Hasil penelitian Yetisir dan Sari (2000) pada tanaman famili cucurbitaceae lain menunjukkan sambungan tanaman semangka dengan labu air menunjukkan kenaikan berat basah 148% dan berat kering 42-180% lebih tinggi daripada kontrol. Selain hal tersebut jumlah daun dan luas daun juga lebih lebar pada tanaman yang disambung. Kenaikan beberapa komponen hasil pada tanaman semangka yang disambung juga di dapatkan dari penelitian Salam
(2002), hasil panen mencapai 56.92 ton/ha pada semangka yang disambung, sedangkan yang tidak disambung hanya 16.35 ton/ha. Waluh dapat digunakan sebagai batang bawah. Hal tersebut karena tanaman waluh mempunyai sifat yang tahan terhadap penyakit akar dan cepat menyerap unsur hara. Selain hal tersebut di atas, tanaman waluh juga masih memiliki hubungan kekerabatan dalam satu famili dengan melon, sehingga apabila dilakukan penyambungan antara tanaman melon dengan tanaman waluh maka tingkat keberhasilannya semakin besar dan dapat dihasilkan sambungan yang kompatibel. Hasil penelitian Hadiati et al. (1994) menjelaskan bahwa beberapa varietas tanaman mempunyai kompatibilitas yang berbeda, tergantung pada kemampuan tanaman tersebut untuk menghasilkan kalus yang sangat berpengaruh dalam pembentukan pertautan. Keberhasilan penyambungan tersebut dipengaruhi oleh faktor genetis, fisiologis, serta anatomi yang sama. Dari hasil pengalaman yang dilakukan Dinas Pertanian Jawa Timur menunjukkan bahwa penyambungan tanaman melon menggunakan batang bawah labu air, waluh atau beligu akan menghasilkan buah melon yang lebih besar daripada hasil buah melon yang tidak disambung.

1.2 Tujuan
Bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil beberapa varietas melon yang disambung dengan waluh sebagai batang bawah.



















KAJIAN TEORITIS

Penelitian dilaksanakan di Green House Pusat Studi Pengembangan Agribisnis Tanaman Hortikultura Dataran Rendah Lebo-Sidoarjo pada bulan Oktober 2005 sampai Januari 2006, dengan menggunakan bibit tanaman melon varietas Autumn Sweet, Ten Me dan America, sedangkan batang bawah ialah bibit tanaman waluh. Penelitian merupakan percobaan faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Setiap kombinasi perlakuan dalam satu perlakuan terdiri dari 10 sampel tanaman. Faktor pertama ialah penyambungan (S) yaitu (S0) tanpa disambung dan (S1) disambung. Faktor kedua ialah varietas tanaman melon (V) yaitu (V1) Ameria, (V2) Ten Me dan (V3) Autumn Sweet. Benih melon direndam dalam air selama 2–4 jam, kemudian diperam selama 24 jam. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah pada pot pembibitan, yang telah diisi pasir, tanah, pupuk kandang dan sekam arang yang dicampur secara merata. Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak mudah rebah. Penyambungan dilakukan setelah tanaman melon berumur 9 hari, sedangkan tanaman waluh telah berumur 7 hari dengan metode sambung tusuk. Bibit dipindah ke lapang jika penyambungan telah berhasil dan dipupuk dengan pupuk majemuk NPK (15:15:15) masing-masing 5 gram/tanaman. Melon siap dipanen jika terjadi keretakan pada bagian pangkal tangkai buah seperti bentuk cincin, buah beraroma harum, jaring pada permukaan kulit buah tampak lebih tegas. Data dianalisis dengan analisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji BNT 5 %.








HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara perlakuan penyambungan dengan beberapa varietas melon sebagai batang atas pada parameter saat pecah tunas, panjang tanaman, jumlah daun dan umur saat berbunga. Pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa penyambungan melon dengan waluh menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk pecah tunas lebih lama dibandingkan dengan tanaman yang tanpa disambung. Hal tersebut disebabkan tanaman melon sambungan membutuhkan waktu untuk membentuk kalus dan menyembuhkan luka bekas sambungan (Setiadi dan Parimin, 2002). Panjang tanaman, jumlah daun dan saat berbunga dipengaruhi oleh perlakuan penyambungan melon dengan waluh. Tanaman yang disambung menunjukkan panjang tanaman dan jumlah daun lebih besar daripada tanpa disambung, dan dapat mempercepat waktu berbunga.Menurut Golecki dan Schulz (1998), ketika tanaman disambung akan terjadi penambahan protein yang terdiri atas sekurangkurangnya 9 polipeptida yang akan muncul pada batang atas setelah 9-11 hari dilakukan penyambungan. Perbedaan polipeptida tersebut diduga akan mempengaruhi karakter tumbuh tanaman dan akan diproyeksikan pada pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Perbedaan varietas melon yang diuji hanya berpengaruh nyata pada peubah panjang tanaman dan jumlah daun. Varietas Ten Me menunjukkan tanaman terpanjang, sedangkan Autumn Sweet mempunyai jumlah daun terbanyak. Ketiga varietas tersebut tidak menunjukkan beda nyata pada saat pecah tunas dan waktu berbunga. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan penyambungan dengan beberapa varietas tanaman melon America sebagai batang atas pada peubah berat buah dan diameter buah. Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa varietas Ameria sangat respons terhadap penyambungan dan menunjukkan pertambahan berat buah terbesar yaitu kenaikan sebesar 63.5% varietas Ten Me mengalami kenaikan sebesar 37.9%, sedangkan varietas Autumn Sweet hanya mengalami kenaikan sebesar 18.8 % dibandingkan dengan yang tanpa disambung. Diameter buah memperlihatkan trend yang sama dengan berat buah. Hal tersebut menunjukkan bahwa varietas Ameria mempunyai persamaan sifat lebih besar dengan tanaman waluh sebagai batang bawah sebagai salah satu dari faktor yang mempengaruhi
pembentukan penyambungan. Hartmann dan Kester (1991) menyatakan bahwa ketidakserasian
antara batang atas dan batang bawah dapat disebabkan oleh adanya perbedaan genetis, fisiologis, biokimia dan anatomi yang dapat mengakibatkan pertumbuhan sambungan yang abnormal (inkompatibel). Hadiati et al. (1994) menambahkan bahwa kompatibilitas batang atas dan batang bawah yang serasi mampu menghasilkan tanaman yang vigor, sebaliknya yang kurang serasi mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan pembengkakan batang di sekitar
tempat okulasi. Penyambungan meningkatkan kadar glukosa
sebesar 7.79%. Varietas Ten Me mempunyai rasa termanis karena mempunyai kadar glukosa terbesar (Tabel 3). Hasil pengamatan secara visual (deskripsi) pada bentuk buah, warna daging buah dan tekstur kulit buah menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara tanaman melon yang disambung dengan yang tidak disambung.























KESIMPULAN

Penyambungan menyebabkan tertundanya saat pecah tunas dan saat berbunga, meningkatkan jumlah daun dan panjang tanaman. Berat buah dan diameter buah meningkat dengan penyambungan melon dengan waluh sebagai batang bawah. Varietas Ameria sangat respons terhadap penyambungan, sedangkan Autumn Sweet memiliki respons terkecil pada penyambungan. Penyambungan meningkatkan kadar glukosa sebesar 7.79%, sedangkan pengamatan secara visual (deskripsi) pada bentuk buah, warna daging buah dan tekstur kulit buah tidak terdapat perbedaan.






















DAFTAR PUSTAKA


Ashari, S. 1995. Hortikultura. Aspek Budidaya. UI–Press. pp. 485.

Golecki, B and A. Schulz. 1998. Evidence for Graf Transmission of Struktural Phloem Protein or Precusors in Heterografts of Cucurbitaceae. Botanisches Institut der Universitat. Olshausentrae 40 D24098 Germany. Planta 206: 630-640.

Hadiati, S. Lukitariati, Indriyani dan Susiloadi. 1994. Interaksi antara Beberapa Macam Batang Bawah dan Batang Atas pada Pembibitan Rambutan. Penelitian Hortikultura 6 (3) : 1–11.

Salam. M. A. 2002. Growth and Yield of Watermelon as Influenced by Grafting. On Line Journal of Biological Science. Bangladesh Agric. Res. Inst. 2(5): 298- 299.

Samadi, B. 1995. Usahatani Melon. Kanisius. Yogyakarta. pp.81.

 Setiadi dan Parimin, 2002. Bertanam Melon. Penebar swadaya. Jakarta. pp. 85.

 Wudianto, R. 2003. Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yetisir. H. and N. Sari 2000. Effect of Different Rootstock on Plant Growth, Yield and Quality of Watermelon. Aust. J. Exp. Agric. 43(10): 1269-1274.

Rabu, 30 Mei 2012

irigasi



IRIGASI
merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu per satu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram.Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak Merir Kuno.
Jenis-Jenis Irigasi
  • Irigasi Permukaan: Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di sungai melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan pengambilan bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran primer, sekunder, dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih dulu.
  • Irigasi Lokal ; Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi. Di sini juga berlaku gravitasi, di mana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disebar hanya terbatas sekali atau secara lokal.
  • Irigasi dengan Penyemprotan ; Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle. Air yang disemprot akan seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas, daun akan basah lebih dahulu, kemudian menetes ke akar.
  • Irigasi Tradisional dengan Ember ; Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang banyak sekali. Di samping itu juga pemborosan tenaga kerja yang harus menenteng ember.
  • Irigasi Pompa Air ; Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudian dialirkan dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada musim kemarau irigasi ini dapat terus mengairi sawah.
  • Irigasi Tanah Kering dengan Terasisasi ; Di Afrika yang kering dipakai sustem ini, terasisasi dipakai untuk distribusi air.
Jenis Irigasi Khusus
Irigasi Pasang-Surut di Sumatera, Kalimantan, dan Papua

Dengan memanfaatkan pasang-surut air di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua dikenal apa yang dinamakan Irigasi Pasang-Surat (Tidal Irrigation). Teknologi yang diterapkan di sini adalah: pemanfaatan lahan pertanian di dataran rendah dan daerah rawa-rawa, di mana air diperoleh dari sungai pasang-surut di mana pada waktu pasang air dimanfaatkan. Di sini dalam dua minggu diperoleh 4 sampai 5 waktu pada air pasang. Teknologi ini telah dikenal sejak Abad XIX. Pada waktu itu, pendatang di Pulau Sumatera memanfaatkan rawa sebagai kebun kelapa. Di Indonesia terdapat 5,6 juta Ha dari 34 Ha yang ada cocok untuk dikembangkan. Hal ini bisa dihubungkan dengan pengalaman Jepang di Wilayah Sungai Chikugo untuk wilayah Kyushu, di mana di sana dikenal dengan sistem irigasi Ao-Shunsui yang mirip.
Irigasi Tanah Kering atau Irigasi Tetes

Di lahan kering, air sangat langka dan pemanfaatannya harus efisien. Jumlah air irigasi yang diberikan ditetapkan berdasarkan kebutuhan tanaman, kemampuan tanah memegang air, serta sarana irigasi yang tersedia.
Ada beberapa sistem irigasi untuk tanah kering, yaitu:

* (1) irigasi tetes (drip irrigation),
* (2) irigasi curah (sprinkler irrigation),
* (3) irigasi saluran terbuka (open ditch irrigation), dan
* (4) irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation).

Senin, 28 Mei 2012

jamur tiram



BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG
Budidaya Jamur merupakan salah satu usaha peningkatan ekonomi dan pangan yang sangat marak berkembang di masyarakat belakangan ini, bisnis dari budidaya jamur memang menjanjikan hasil yang lumayan saat ini maka dari itu banyak masyarakat yang turut serta dalam usaha budidaya jamur ini. Selain mudah dalam proses pengerjaannya, budidaya jamur tidak membutuhkan modal yang terlalu besar sehingga sangat tepat diterapkan pada masyarakat yang taraf ekonominya sedang ataupun rendah, bahkan saat ini banyak petani padi, jagung, tembakau maupun peternak yang banting stir berprofesi menjadi pembudidaya jamur, bahkan membudidayakan jamur juga banyak diandalkan sebagai pekerjaan sampingan.
Jamur memiliki manfaat yang beragam dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan pembuatan obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kronis. Sebagai bahan pangan, jamur tiram misalnya dapat dimasak sebagai campuran sayur sop, jamur krispi maupun keripik jamur. Banyak restoran berkelas yang mengandalkan hidangan utamanya adalah berbahan dasar jamur. Sebagai bahan pengobatan, jamur memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia, protein nabati yang tidak mengandung kolesterol dapat digunakan sebagai obat pencegah timbulnya penyakit darah tinggi dan serangan jantung, serta dapat mencegah penyakit diabetes dan mengurangi berat badan atau obesitas. Kandungan asam folat yang tinggi dapat menyembuhkan penyakit anemia dan obat anti tumor, juga dapat digunakan untuk mencegah dan menanggulangi kekurangan gizi dan pengobatan kekurangan zat besi.
Dengan banyaknya manfaat tersebut, maka tidak salah jika pada jurusan Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Budidaya Jamur termasuk mata kuliah pilihan yang dapat diambil oleh mahasiswa. Dengan adanya mata kuliah pilihan budidaya jamur ini, diharapkan mahasiswa dapat berlatih untuk membudidayakan jamur yang bermanfaat dalam kehidupan manusia dan nantinya dapat diterapkan dikehidupan sehari-hari. Salah satu praktikum dari budidaya jamur adalah budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang juga memiliki banyak manfaat. Dalam praktikum ini mahasiswa dilatih untuk membudidayakan jamur tiram putih melalui berbagai tahap yaitu tahap pencampuran bahan, tahap pembuatan log, tahap sterilisasi log, tahap inokulasi bibit jamur ke dalam log, tahap inkubasi log, dan pengamatan pertumbuhan miselium serta tahap penanaman log.

  1. TUJUAN PRAKTIKUM
  1. Mengenal spesies jamur yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Mempelajari cara-cara membudidayakan jamur yang bermanfaat

  1. MANFAAT PRAKTIKUM
  1. Mahasiswa dapat mengetahui beberapa macam spesies jamur yang bermanfaat bagi manusia.
  2. Mahasiswa mampu berlatih untuk membudidayakan jamur.
  3. Mahasiswa mampu menguasai cara-cara dalam tahapan budidaya jamur dan menerapkannya di kehidupan nyata.
  4. Melatih mahasiswa untuk berwirausaha

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pringkuning (2007), menyatakan bahwa ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram (Pleurotus sp.), yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik. Langkah kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci. Langkah ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7. Langkah keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil. Langkah kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C. Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Langkah ketujuh, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C. Langkah kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras. Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata. Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.
Prawirahardja (2010), menyatakan bahwa di antara banyak jenis jamur, jamur tiram ini termasuk dalam kategori tanaman konsumsi. Ciri yang khas ada pada tudungnya berwarna hitam lembayung sampai kecoklatan. Bentuknya menyerupai kulit kerang dengan diameter 6-14 cm. Selain itu, tekstur permukaan tudung licin dan mengkilap. Demikian juga bilahnya berwarna putih, krem atau putih gading yang tersusun agak rapat. Disini terjadi fase perubahan bentuk, yaitu sewaktu muda bilahnya berwarna putih dan semakin tua jadi krem kekuningan dengan ukuran sekitar 1-3 cm. Jamur ini hidup baik pada kisaran suhu tinggi sekitar 25-30 °C. Untuk melakukan budidaya jamur tiram ini, tidak sesulit yang dibayangkan. Hanya masalah perlakuan lingkungan harus diperhatikan benar, dimana pada habitatnya ia lebih menyukai area dataran tinggi sebagai optimalisasi proses pertumbuhan. Itu didukung pula dengan tingkat kelembaban yang jadi sarat hidup mutlak. Kondisi lembab dan dingin yang sesuai dengan karakter jamur, membuat bentuknya semakin besar. Namun tak perlu berkecil hati, bagi Anda yang tinggal di dataran rendah dan berniat melakukan budidaya jamur tiram. Sebab, ada alternatif yang tetap bisa dilakukan, seperti membuat kondisi lingkungan tempat tinggal jamur (minimal hampir sama) dengan habitat aslinya. Namun penerapannya pun perlu dilakukan secara ekstra dari perlakuan jamur untuk daerah dingin. Alternatifnya, bisa dengan membuat lingkungan untuk selalu dalam keadaan lembab. Menyiram bagian tanahnya secara rutin, jadi salah satu cara untuk membuat tingkat kelembaban yang cocok. Sedangkan untuk bagian tanaman jamurnya tak perlu disiram, karena hanya faktor lingkungan tumbuh yang mempengaruhi pertumbuhan.
Nurfitriana (2010), menyatakan bahwa tempat tumbuh Jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada didalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa lignin, pentosan, zat ekstakrktif, dan abu yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan miselium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan ticlak busuk dan tidak ditumbuhi jornur jenis lain Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein.
Tjitrosoepomo (2001), menyatakan bahwa jamur tiram (Pleurotus ostreatus) memiliki tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem, memiliki tangkai yang tumbuh menyamping, bentuknya seperti tiram (ostreatus), permukaannya hampir licin, diameter 5-20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Pada waktu muda, tubuh buah diselubungi oleh velum universal. Jiak tubuh membesar, tinggallah selaput pada pangkal tangkai tubuh buah sebagai bursa. Dari tepi tubuh buah ke tangkai terdapat pula selaput yang menutupi sisi bawah tubuh btah dinamakan velum partiale. Jika tubuh buah membesar, maka selaput ini akan robek dan merupakan suatu cicncin (annulus) pada bagian atas tubuh buah. Himenofora pada sisi bawah tubuh buah, membentuk papan-papan atau lamella yang tersusun radial, dapat juga himenofora membuat tonjolan berupa buluh-buluh. Himenium meliputi sisi bawah tubuh buah tadi dan mula-mula terletak di bawah velum partiale. Letak himenium yang demikian itu disebut angiokarp.
Menurut Kistinnah (2010) secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air. Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut:
  1. Konidiospora, merupakan konidium yang terbentuk di ujung atau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium, sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium.
  2. Sporangiospora, merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus.







BAB III
METODE PRAKTIKUM

  1. Tempat dan Waktu
  1. Tempat
Praktikum budidaya jamur ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Jamur
  1. Waktu
Praktikum budidaya jamur dilaksanakan pada mulai dari bulan Oktober 2010 sampai bulan Januari 2011

  1. Alat dan Bahan Praktikum
  1. Alat
  1. Alat yang digunakan untuk sterilisasi diantaranya adalah drum steam, kompor minyak, thermometer, selang karburator, dan pompa.
  2. Alat yang digunakan untuk fermentasi adalah sekop, plastik terpal, corong, ember, timbangan, dan pengayak.
  3. Alat yang digunakan dalam pembuatan log adalah plastik log (polipropilen), cincin jamur, karet gelang, plastik penutup, kapas, ember, dan kertas.
  4. Alat yang digunakan dalam inokulasi adalah tongkat inokulasi, ember/ baskom
  5. Alat yang digunakan dalam perawatan jamur adalah penyemprot air uap.
  1. Bahan
Bahan utama dalam praktikum ini adalah bibit Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) dan serbuk gergaji. Bibit Jamur Tiram Putih diperoleh dari hasil pembibitan budidaya jamur di daerah dukuh Sembung, Bekonang.
  1. Bahan utama yang digunakan adalah Bibit Jamur Tiram Putih
  2. Bahan yang digunakan untuk media antara lain serbuk gergaji kayu sengon, bekatul, kalsit, pupuk kandang sapi, dan air.
  3. Bahan yang digunakan untuk sterilisasi adalah minyak tanah dan air.

  1. Pelaksanaan praktikum
  1. Tahap pencampuran bahan
  1. Meletakkan bahan pada tempat yang datar dan kering.
  2. Mencampur komposisi bahan dengan perbandingan :
Serbuk gergaji : 100 kg
Bekatul : 10 kg
Batu kapur/ kalsit : 4 kg
Air : 7 ember (70 liter)
  1. Meratakan komposisi bahan tersebut hingga homogen dan tidak menggumpal.
  2. Mengecek kelembaban adukan bahan, apabila sudah lembab dihentikan.
  3. Menutup adonan bahan dengan plastik terpal dan memfermentasikannya selama 3-5 hari.
  1. Tahap pembuatan log
  1. Menyiapkan alat dan bahan
  2. Memasukkan komposisi bahan ke dalam plastik log.
  3. Menimbang bahan seberat 0,9-1 kg.
  4. Menambahkan pupuk kandang sapi sesuai perlakuan.
  5. Memadatkan bahan yang dimasukkan dalam plastik hingga tidak ada ruang kosong.
  6. Memasukkan cincin jamur pada ujung plastik.
  7. Mengikat ujung plastik pada cincin jamur dengan karet gelang.
  8. Menyumbat cincin jamur dengan kapas.
  9. Menutup cincin jamur yang sudah disumbat dengan kapas menggunaakan kertas dan mengikatnya dengan karet gelang.
  1. Tahap sterilisasi log
  1. Memasukkan log pada drum steam
  2. Menyalakan kompor
  3. Mensterilisasi log pada suhu 1140C konstan selama 4-5 jam.
  4. Mendinginkan log pada tempat yang steril
  1. Tahapan inokulasi bibit jamur ke dalam log dan pengamatan miselium
  1. Mensterilkan telapak tangan dengan menggunakan alcohol 70%.
  2. Membuka plastik/ kertas yang menutup cincin jamur pada log.
  3. Membuka sumbatan kapas pada cincin jamur.
  4. Mengeluarkan 3 sendok makan media dalam log dengan tingkat inokulasi dan selanjutnya menamping sisa media tersebut dalam ember.
  5. Menginokulasikan bibit jamur tiram putih kurang lebih 3 sendok makan ke dalam log menggunakan tongkat inokulasi.
  6. Menutup kembali cicncin log dengan kapas.
  7. Menginkubasikan log ke dalam ruang pembibitan
  8. Mengamati pertumbuhan miselium jamur dalam log.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang cukup populer di tengah masyarakat Indonesia, selain jenis jamur lainnya seperti jamur merang, jamur kuping dan jamur shitake. Pada umumnya jamur tiram dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan tidak mengandung kolesterol. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung.
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu. Untuk itu, saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat alaminya. Dalam budidaya jamur tiram dapat digunakan substrat, seperti kompos serbuk gergaji kayu, ampas tebu atau sekam. Hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya jamur tiram adalah faktor ketinggian dan persyarataan lingkungan, sumber bahan baku untuk substrat tanam dan sumber bibit.Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 26-30 °C.
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900. Budidaya jamur ini tergolong sederhana. Jamur tiram biasanya dipeliharan dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik. Hal penting yang harus dipenuhi adalah menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur tiram. Hal lain yang penting adalah menjaga lingkungan pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya. Tidak jarang pembudidaya jamur tiram mendapati baglog (kantong untuk media jamur tiram) ditumbuhi tumbuhan lain selain jamur tiram, hal ini disebabkan proses sterilisasi yang kurang baik dan lingkungan yang tidak kondusif.
Pada praktikum yang telah kami lakukan, proses budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dapat dituliskan dalam bagan di bawah ini:

Persiapan tempat dan pemilihan bahan untuk media tanam
Pencampuran bahan
pembuatan log/loging
fermentasi
sterilisasi
inokulasi
inkubasi/penumbuhan miselium
pemanenan dan penanganan pasca panen

Dalam proses pembudidayaan, syarat tumbuh jamur tiram yang baik antara lain:
  1. Air
Kandungan air dalam substrat berkisar antara 60-65%. Apabila kondisi kering maka pertumbuhan  jamur akan terganggu atau terhenti, begitu pula sebaliknya apabila kadar air terlalu tinggi maka miselium akan membusuk dan mati. Penyempurnaan air dalam ruangan dapat dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban.
  1. Suhu
Suhu inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium dipertahankan antara 60-70%. Suhu pada pembentukan tubuh buah berkisar antara 16-22º C.
  1. Kelembaban
Kelembaban udara selama masa pertumbuhan miselium 60-70%. Kelembaban udara Pada pertumbuhan badan buah 80-90%.
  1. Cahaya
    Pertumbuhan jamur tiram sangat peka terhadap cahaya secara langsung. Cahaya tidak langsung (cahaya pantul biasa ± 50-15000 lux) bermanfaat dalam perangsangan awal terbentuknya tubuh buah. Intentisitas cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur sekitar 200 lux (10%). Sedangkan pada pertumbuhan miselium tidak diperlukan cahaya.
  2. Aerasi
Dua komponen penting dalam udara yang berpengaruh pada pertumbuhan jamur yaitu Oksigen (O2) dan Karbon Dioksida (CO2). Oksigen merupakan unsure penting dalam respirasi sel. Sumber energi dalam sel dioksidasi menjadi karbondioksida. Konsentrasi Karbon Dioksida (CO2) yang terlalu banyak dalam kumbung menyebabkan pertumbuhan jamur tidak normal. Didalam kumbung jamur konsentrasi CO2 tidak boleh lebih dari 0,02%.
  1. Tingkat Keasaman (pH)
Tingkat keasaman media tanam mempengaruhi pertumbuhan dan petkembangan jamur tiram putih. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi penyerapan air dan hara, bahkan kemungkinan akan tumbuh jamur yang lain yang akan menganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. pH optimum pada media tanam berkisar 6-7.